Peluk Luka

Peluk Luka

  • WpView
    Reads 7,973
  • WpVote
    Votes 608
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 14, 2026
Raisa Ayu Ningrum terjebak dalam takdir yang tidak pernah dia inginkan. Demi anaknya, dia terpaksa menikah dengan Mohan Wiratama Kusuma, kakak iparnya sendiri-seorang lelaki yang membencinya hingga ke tulang. Tanpa cinta, tanpa kehangatan, hanya dinginnya kebencian yang memenuhi setiap sudut pernikahan mereka. Mohan menyalahkan Raisa atas kematian sang adik. Baginya, Raisa adalah penyebab segala kesengsaraan. Setiap tatapan, setiap kata, adalah racun yang ia tujukan padanya. Dia tidak pernah memaafkan, tidak pernah melupakan. Di balik air mata dan kepasrahan, Raisa menyimpan luka yang sama dalam. Dia mencintai suaminya yang telah pergi, tapi kini terikat dengan lelaki yang menganggapnya sebagai kutukan. Pernikahan ini dibangun di atas penderitaan. Akankah kebencian membakar mereka hingga hancur, atau justru ini awal kebahagiaan mereka?
All Rights Reserved
#13
mohanraisa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain's Mother

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines