Akankah luka menuntun pulang?

Akankah luka menuntun pulang?

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 25, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Semuanya bermula di tengah kericuhan. Asap gas air mata, teriakan mahasiswa, dan langkah-langkah yang tergesa-di sanalah Lara pertama kali melihatnya. Seorang pria asing yang matanya tenang dalam kekacauan, suara yang pelan tapi justru membekas lebih dalam daripada semua teriakan yang hari itu memenuhi udara. Ia pikir itu hanya momen singkat yang akan ia lupakan setelahnya. Tapi waktu justru menjahit takdir dengan cara yang tak pernah bisa ia pahami. Tahun-tahun berlalu, nama itu kembali hadir. Bukan sebagai cinta lama yang datang membawa harapan, tapi sebagai luka yang selama ini diam-diam ia pelihara. Arga kembali, ketika Lara sudah belajar hidup sendiri. Ketika seorang anak kecil telah menjadi seluruh dunianya. Mereka berbicara seperti dua orang asing yang pura-pura tak punya masa lalu. Namun setiap senyuman kecil, tatapan lirih, dan pertanyaan yang tidak diucapkan membuat Lara bertanya: Bisakah luka yang tak pernah sembuh justru menuntunnya pulang?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines