SANG BARET JINGGA

SANG BARET JINGGA

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 29, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di bawah langit senja Jakarta yang selalu ramai, Kirana hanyalah setitik bayangan. Kesendirian adalah sahabat lamanya, sejak ia belajar bagaimana rasanya kehilangan. Ayah. Kata itu masih bergetar di benaknya, sebuah nama yang terukir di nisan marmer, gugur dalam tugas. Trauma itu tak pernah benar-benar pergi, hanya bersembunyi di sudut hati, siap muncul kapan saja. Sampai Aryan datang. Bukan dengan setelan jas rapi atau puisi cinta di bawah jendela, melainkan dengan seragam biru gelap kebanggaannya, baret jingga Paskhas yang gagah, dan tatapan mata yang menyimpan ribuan cerita tentang langit dan darat. Aryan, seorang Komando Pasukan Gerak Cepat TNI Angkatan Udara. Kirana tahu risiko mencintai seorang prajurit. Ia tahu Aryan akan pergi, dan pergi, dan pergi lagi. Panggilan tugas adalah istri pertamanya, janji setia yang tak bisa diganggu gugat. Setiap dering telepon di tengah malam, setiap pesan singkat yang memberitahu tentang penugasan mendadak, adalah tikaman kecil di hati Kirana. Trauma masa lalu bergentayangan, bisikan-bisikan ketakutan yang merasuki pikiran: "Bagaimana jika ia tak kembali? Bagaimana jika sejarah terulang?" Kekhawatiran itu adalah bayangan yang tak pernah bisa ia lepaskan. Namun, di tengah badai kecemasan itu, ada secercah harapan yang terus menyala. Sebuah janji tak terucap bahwa mereka harus tetap bersama, melewati segalanya, hingga akhir. Ini bukan hanya tentang cinta, ini tentang pengorbanan yang tak terlihat, tentang pengabdian seorang prajurit kepada negaranya, dan tentang pengabdian seorang wanita yang memilih untuk mencintai dengan seluruh ketakutan dan kekuatannya. Ini adalah kisah tentang trauma yang dihadapkan dengan keberanian, tentang pengorbanan yang menjadi fondasi, dan tentang cinta yang menemukan jalannya di tengah riuhnya panggilan tugas. Akankah cinta mereka mampu mengalahkan jarak, waktu, dan segala kekhawatiran yang mengancam?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Salah Status [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines