Setelah melewati hari-hari yang dipenuhi tekanan, kegagalan, dan luka yang tak sempat sembuh, Sekar Laras Rinjani memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan pergi ke sebuah desa kecil di kaki Gunung Merapi. Ia tidak tahu pasti apa yang ia cari, mungkin ketenangan, mungkin pelarian, atau sekadar diam yang tidak menghakimi.
Di desa itu, Laras bertemu Gilang Sagara, pemilik kedai kopi rumahan yang mencintai pagi dan senja dalam diamnya. Berbeda dengan keramaian kota, Gilang hadir tanpa tuntutan. Bersama secangkir kopi panas, hujan sore, dan percakapan-percakapan kecil, Laras perlahan menemukan ruang untuk bernafas.
Namun, pemulihan bukanlah proses yang lurus. Laras harus menghadapi kembali apa yang pernah ia tinggalkan: luka masa lalu, ketakutannya sendiri, dan ketidakpastian akan masa depan. Sementara Gilang, di balik ketenangannya, juga menyimpan duka yang tak banyak orang tahu.
Tentang perjalanan pulang ke dalam diri sendiri, tentang luka yang tak bisa disembuhkan dengan waktu, dan tentang dua orang yang saling belajar berteduh dalam kehadiran satu sama lain.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang