Sebuah kisah tentang luka, cinta yang dibungkam, dan kekuatan perempuan yang memilih bertahan bukan karena lemah... tapi karena tahu, waktu adalah senjata paling mematikan.
Fei Yin, gadis dari keluarga tabib, hidupnya direnggut saat cinta pertamanya dibunuh oleh kekuasaan. Dijadikan Permaisuri oleh Kaisar Wu-lelaki yang membunuh, mencintai, lalu mengikatnya dalam sangkar keemasan-ia terpaksa menanggalkan luka demi bertahan.
Lima belas tahun ia hidup di dalam istana, menjadi wajah lembut kekaisaran, tapi menyimpan bara dalam diam. Di balik senyum tenangnya, ia menenun balas dendam yang tak pernah padam-hingga pada akhirnya, cinta yang sempat menjadi belenggu, ia ubah menjadi senjata.
Kaisar Wu, penguasa yang tak terkalahkan, mencintai Fei Yin lebih dari tahtanya. Tapi ia tak pernah tahu: perempuan yang ia peluk setiap malam, adalah perempuan yang diam-diam menghancurkannya perlahan.
"Siapa ayah anak itu?"
Pertanyaan itu keluar tanpa basa-basi, dan menggantung seperti jerat di langit-langit.
Fei Yin tidak menjawab. Ia menatap nyala lilin di meja, seolah ingin bicara pada cahaya daripada pada lelaki di depannya.
"Kalau kau tidak menjawab sekarang..." Kaisar mencengkeram lengan kayu kursinya, "maka aku akan menganggap semua yang kuberikan padamu-tak lebih dari permainan belaka."
"Permainan?" Fei Yin akhirnya bicara. Suaranya rendah, tapi setiap kata mengiris.
"Kalau ini permainan, maka aku adalah papan caturmu. Kau gerakkan aku semaumu. Kau kalahkan aku, kau pijak aku, dan kini... kau bertanya kenapa bidaknya tak lagi menunduk padamu?"
Kaisar berdiri. Jubahnya yang merah keemasan berkibar. Matanya menatap Fei Yin seperti ingin merobek lapisan-lapisan batinnya.
"Aku mencintaimu, Fei Yin"
"Tapi kau tak pernah benar-benar mengenalku," potongnya. "Cinta tanpa pengenalan hanyalah obsesi, Kaisar."
Kata terakhir itu seperti cambuk yang menghantam dada Kaisar.
Di awal kisah, aku dan kamu satu.
Parasku itu parasmu.
Ragaku serupa ragamu.
Namun hidupmu ibarat jalan landai berhias ilalang, sedangkan hidupku layaknya tikungan curam terjal berbatu.
Dirimu begelimang kasih, tapi diriku berbalut nestapa.
Mudah untukmu, yang sulit jadi bagianku.
Kamu beruntung, aku yang sial.
Kenapa harus kamu, bukan aku?
Memang apa kesalahanku?
Salahkan jika kini aku ingin berada di posisimu?
Saudariku, kumohon menghilanglah selamanya.
PERHATIAN!!!
Cerita ini seluruhnya FIKTIF belaka serta tidak terkait dengan sejarah kerajaan manapun walau kisah berlatar kerajaan masa lampau.
Semua nama, tokoh, karakter, tempat, waktu, dan jalan cerita hanya rekaan demi kepentingan HIBURAN semata.