Pernah kamu tahu bagaimana sudut pandang seorang pangeran terhadap kisah cintanya?
Pernahkah kamu membayangkan seperti apa cinta dari seorang pangeran-yang sejak kecil dilatih untuk tidak merasa, tidak menunjukkan ekspresi, dan tidak memiliki hak atas perasaan sendiri?
Hendrix, pangeran keempat dari kerajaan Chesster, tumbuh dalam istana mewah penuh darah dan pengkhianatan. Ekspresi adalah kelemahan. Cinta adalah celah yang tak boleh ada.
Namun segalanya berubah ketika seorang gadis asing berambut senja muncul di taman istana. Ia bukan bangsawan. Bukan pelayan. Bukan siapa-siapa. Hanya tawanan perang.
Tapi... untuk pertama kalinya, Hendrix tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Ia tetap diam di hadapan semua orang. Tapi di dalam pikirannya-dalam narasi diamnya yang tajam, lembut, dan memilukan-terukir jelas betapa dalam cintanya kepada gadis itu.
Sayangnya, pembaca diizinkan tahu.
Namun wanita itu...
Tidak boleh tahu.
-english version-
Have you ever wondered what love looks like through the eyes of a prince-one who was trained from childhood never to tremble, never to smile, and never to feel?
Hendrix, the fourth prince of the Chesster Kingdom, was raised in a palace of gold and blood. Expression is weakness. Emotion is a flaw. Love is not part of the royal curriculum.
Until one day, a girl with hair like the sunset appears beneath the royal garden tree. Not a noble. Not a servant. Just a prisoner of war.
And for the first time, the prince cannot look away.
To the world, he remains silent. Cold. Untouched.
But inside his mind-inside his quiet, aching thoughts-he burns with love. With longing.
Only the reader is allowed to know.
But she must never find out.
Because in a kingdom ruled by power and betrayal, love isn't just forbidden.
It's dangerous.
And so, the prince loves her... in silence.
This is his story. A love letter never sent. A war fought in silence. A heart that speaks only to you.
Todos los derechos reservados