"Aku terlahir dari sebuah bara dendam, terlahir dengan cara yang tidak diharapkan. Aku diibaratkan sebuah kegagalan yang tanpa sengaja dibalut keberuntungan." "Mungkin takdirku memang seperti ini, selalu hidup seperti bayangan, di mana pun aku menginjakkan kaki. Bayangan yang hanya muncul dikala gelap datang, dan bayangan yang tak pernah ingin dilihat," ia berucap dengan tenang, seolah itu hanyalah kalimat biasa, yang tak pernah membuatnya terluka. "Jika Kau terlahir dengan cara yang tidak diharapkan, maka hiduplah sebagai satu-satunya harapanku. Dan jika kau adalah kegagalan dimata orang lain, maka akan kujadikan dirimu sebagai anugerah terindah dalam hidupku," perlahan tangannya terulur menggenggam tangan Chhaya dengan lembut. "Dan ingat satu hal lagi, kau adalah bayangan indah yang selalu kunanti kedatangannya." Hembusan angin malam yang harusnya terasa dingin, kini tertutupi oleh hangatnya pengakuan tulus seseorang. Dan perlahan-lahan angin takdir mulai berubah arah, ntah ke arah yang lebih buruk, atau malah sebaliknya. *Cerita ini hanyalah fiktif belaka, dan sekedar untuk hiburan. Sama sekali tidak berkaitan dengan kejadian atau tokoh nyata dalam kisah asli Mahabharata.
More details