"Oh, sudah tahu, ya?"
"Takut?"
"Tetapi Jaeyun, aku suka kamu. Jiwamu hangat, itu terlihat ... cantik, berpendar seperti lentera. Aku tidak mau membunuhmu. Bisa jaga rahasia ini untukku?"
"Hantu? Iblis? Roh? Aku tidak tahu. Mungkin itu benar. Mungkin juga salah. Tetapi, aku tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya."
"Benar. Dia sudah mati. Yang ada di depanmu ini hanyalah raganya."
"Maaf! Jaeyun, maaf ... maaf ... maafkan aku. Aku ... a-aku, ini di luar kendaliku. Kamu terlalu indah, tidak- kamu hangat. Aku ingin menyatu denganmu. Membuatku ingin mengambil jiwamu. Dan, dan matamu ... tatapan itu, seolah mengizinkanku untuk melakukannya. Maaf,"
.
Sunghoon terlibat dalam sebuah perkelahian di mana dia berakhir dihabisi oleh sekelompok kakak kelasnya. Tubuhnya diseret dan ditelantarkan begitu saja di hutan yang tak jauh dari sekolahnya. Berharap dia akan mati perlahan.
Dan Jaeyun tahu itu. Jauh sebelum polisi menemukan tubuhnya yang sekarat dan berakhir Sunghoon harus terbaring koma di rumah sakit. Terjadi pendarahan di otaknya, juga beberapa tulang rusuk yang patah. Dokter berkata bahwa hidupnya hanya berlangsung karena alat medis yang terpasang di tubuh Sunghoon. Dengan kata lain, tidak ada lagi harapan.
Nenek Sunghoon tak kuasa melihat cucunya berakhir dengan cara setragis itu. Ditambah putrinya, ibu Sunghoon, yang harus mendapat pertolongan ahli kejiwaan karenanya. Di tengah badai dan gemuruh petir, nenek Sunghoon mendatangi kuil kuno yang berada di balik rimbunnya hutan. Pisau belati ia sayat di pergelangan tangan. Dan dengan rapalan keputusasaan juga harapan yang tersisa, ia menukar jiwanya untuk Sunghoon.
Kelam darah yang tercecer di altar pemujaan meluruh. Mengalir bersama air hujan. Menjalar, membalur, meresap. Penukaran disetujui.
;