Raniyta Zelinda adalah anak tunggal yang tumbuh di rumah yang tak pernah benar-benar terasa seperti rumah. Di balik dinding yang seharusnya memberi kehangatan, justru tersimpan suara pertengkaran, janji-janji kosong, dan luka yang terus berulang. Tak ada saudara yang bisa diajak berbagi cerita atau sekadar menjadi tempat untuk bersandar. Hanya dirinya dan Ibu yang terus berusaha bertahan di tengah keadaan yang tak pernah benar-benar berubah.
Sosok yang seharusnya ia panggil "Ayah", lebih sering ia sebut sebagai laki-laki itu-seseorang yang hadir di rumah, tetapi tak pernah benar-benar hadir sebagai seorang ayah.
Bersama Ibu, Zelinda berkali-kali mencoba bertahan. Pernah pergi, tetapi selalu kembali. Berharap keadaan akan berubah, tetapi lagi-lagi dikecewakan. Hingga akhirnya, Zelinda menemukan caranya sendiri untuk bertahan-menjauh, menyibukkan diri, dan mencari tempat lain untuk melupakan apa yang terjadi di rumahnya.
Namun, semakin ia berusaha melarikan diri, semakin ia sadar bahwa ada luka yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pergi. Ini adalah kisah tentang seorang anak yang tumbuh terlalu cepat, tentang rumah yang kehilangan maknanya, dan tentang perjuangan untuk menemukan arti "pulang" ketika tempat yang seharusnya menjadi rumah justru menjadi sumber luka.
Todos os Direitos Reservados