Ari, seorang anak laki-laki yang sejak kecil dikenal pendiam dan sensitif, tumbuh dalam lingkungan yang mematahkan semangatnya dari berbagai arah. Di sekolah, ia menjadi korban bullying yang tak pernah usai-dari SD hingga SMA-karena sifatnya yang berbeda, penampilannya yang tidak sesuai standar, atau karena ia terlalu suka membaca saat teman-temannya bermain. Di rumah, Ari tak menemukan tempat untuk berlindung. Ayah dan ibunya yang sering didera tekanan ekonomi dan masalah pribadi, melampiaskan kemarahan dan stres mereka pada Ari dalam bentuk kekerasan verbal, emosional, bahkan fisik.
Akumulasi luka itu membuat Ari tumbuh dengan luka mental yang dalam. Saat menginjak SMA, Ari mulai merasakan kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Suatu hari, setelah sebuah insiden berat di rumah dan perlakuan kasar dari teman sekolah, ia nyaris melakukan percobaan bunuh diri. Beruntung, Ari ditolong dan akhirnya dibawa ke psikolog. Di sana, ia didiagnosis mengidap Borderline Personality Disorder (BPD).
Namun cerita Ari tidak berakhir dalam luka. Perlahan, ia mulai menemukan harapan di tempat yang tidak disangka-sangka: organisasi sekolah. Lewat komunitas debat dan organisasi pelajar, Ari mulai belajar bersuara, membangun kepercayaan diri, dan perlahan menemukan arti hidup. Ia mulai menorehkan prestasi akademik dan lomba, dari tingkat lokal hingga nasional. Ari juga mulai menulis puisi dan artikel tentang kesehatan mental, menjadikannya suara bagi banyak remaja yang senasib.
All Rights Reserved