Wrong
  • WpView
    Reads 7,701
  • WpVote
    Votes 937
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 20, 2025
Momen itu menandai dimulainya sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali oleh mereka berdua. Suatu hal terlarang, dibisikkan di antara pintu terkunci dan tatapan mata, rahasia yang tak diketahui sepupu di sini. Tapi mereka melakukannya. Dan sekarang, setiap tatapan membakar, setiap sapuan jari membawa beban. Rasa bersalah bercampur dengan rasa sakit. Rasa malu bercampur dengan hasrat. Mereka berkata pada diri mereka sendiri bahwa mereka bisa berhenti. Bahwa mereka akan berhenti. Namun cinta seperti ini tidak berhenti begitu saja. Dan cepat atau lambat, seseorang akan mengetahuinya. Akankah mereka memilih satu sama lain pada akhirnya? Atau semuanya akan runtuh? Warning!! Cerita ini adalah karya fiksi. Cerita ini mengandung tema percintaan terlarang dan konten seksual, yang mungkin sensitif bagi sebagian pembaca. Jika kalian merasa tidak nyaman dengan tema-tema ini, jangan lanjutkan membaca. Selalu utamakan kesejahteraan dan batasan pribadi Kalian. Terima kasih atas pengertiannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines