Seni Menata Hati (On Going)

Seni Menata Hati (On Going)

  • WpView
    Reads 111
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 13, 2025
"Haidan, hidup itu perihal menyambut dan kehilangan.Tapi kamu tahu alasan kenapa manusia punya perasaan? alasannya itu agar setiap manusia bisa merasakan rasanya kesedihan, kegembiraan, dan kehilangan. Bersedihlah seperlunya, bergembiralah secukupnya, dan berdukalah secukupnya jika kamu kehilangan sesuatu yang berharga di hidup kamu. Lalu kamu harus ingat bahwa kamu sebenarnya tidak benar benar kehilangan. Sesuatu itu abadi dalam kenangan yang kamu bawa dalam perasaanmu. Jadi jangan pernah takut dengan yang namanya kehilangan. Sampai sini paham, kan?" "Bapak, tapi bapa lupa dengan satu hal. Semakin di ingat sebuah cerita semakin dalam juga luka yang di dapatkan, hidup itu juga tentang mempelajari hal yang membuat kita menjadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya. dengan adanya kehilangan di situlah kita mulai belajar lagi bagaimana caranya bangkit dari sebuah keterpurukan bagaimana cara menjadi lebih kuat lagi dari sebelumnya." "katanya dengan adanya kehilangan kita akan menjadi seseorang yang lebih kuat? namun kenapa aku semakin rapuh dan terpuruk dengan kehilangan itu?" WARNING⚠️ Cerita ini adalah sebuah cerita murni karangan diri saya sendiri.
All Rights Reserved
#964
hujan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Time
  • GRAVARENZO
  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • Blueprint Pelarian Villain
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
The Time

Tiga tahun Jeselyn Ananta menghabiskan waktunya mengejar bayang-bayang tunangan nya, Leon Gamalio. Baginya, Leon adalah segalanya. Namun, malam itu mengubah segalanya. Hantaman keras sebuah truk di persimpangan jalan gelap membuat nya berada di ambang maut, dalam koma yang panjang, jiwa Jeselyn melayang masuk ke sebuah masa depan yang tak pernah ia bayangkan. Ia melihat dirinya sendiri dalam versi yang lebih dewasa, lebih rapuh, dan hancur di tengah kemewahan sebuah rumah megah. "Mau ke mana lagi?" tanya Jeselyn masa depan dengan suara serak akibat tangis. "Menemani wanita yang sedang mengandung anakku," jawab Leon dingin, tanpa sedikit pun menoleh. Kenyataan pahit itu menghujam jantung Jeselyn. Pernikahan yang ia impikan ternyata hanyalah penjara tanpa cinta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines