Kontijensi

Kontijensi

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 22, 2025
Di usia dua puluhan, hidup sering kali tak memberi kepastian. Hanya tuntutan untuk tetap bergerak, meski tak tahu ke mana. Ia sibuk memintamu sembuh, padahal dunia tak pernah belajar menyentuh luka dengan benar. Ara mahasiswa Sastra Inggris semester akhir menjalani hidup di antara skripsi, pekerjaan freelance, dan suara-suara di kepalanya yang selalu menuntutnya jadi sempurna. Dibesarkan oleh orang tua yang hanya menghargai hasil, Ara tumbuh jadi sosok yang sinis, cerdas, dan mandiri tapi kesepian. Bima seorang koas kedokteran, terjebak dalam siklus jaga-makan-ngantuk-laporan. Di balik senyuman sarkastis dan kelakar gelapnya, dia nyimpan luka yang belum pernah sempat dia obati. Satu terbiasa membaca tubuh yang sakit. Satu lainnya terbiasa membaca dunia yang tak adil. Mereka bicara dalam bahasa yang berbeda, tapi sama-sama mencari tempat yang bisa membuat napas terasa ringan. Mereka tidak ditakdirkan. Tapi mereka saling menemukan, dalam ruang abu-abu yang tak bernama dan saling mengganggu ritme satu sama lain. Ini adalah cerita tentang kontinjensi tentang bagaimana sesuatu bisa terjadi bukan karena seharusnya terjadi, tapi karena tidak ada yang benar-benar bisa mencegahnya. Dan mungkin, itu cukup.
All Rights Reserved
#40
kedokteran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines