Di tengah panasnya siang Jakarta, ribuan mahasiswa memadati jalanan depan gedung DPR. Spanduk berkibar, suara orasi membelah udara, dan emosi membara di antara massa. Di antara mereka, Reza, mahasiswa semester akhir jurusan hukum, berdiri paling depan. Suaranya lantang, matanya tajam menatap barisan aparat yang membentuk pagar betis.
"Kita lawan ketidakadilan ini! Jangan biarkan suara rakyat dibungkam!" teriak Reza sambil mengangkat tangan.
Barisan aparat TNI-Polri berdiri tegas. Di sisi kanan, berdiri seorang perwira muda dengan seragam loreng lengkap. Letnan Dua (Letda) Wulan, seorang Kowad yang baru saja lulus dari Pusdikkowad, memegang perisai dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tetapi karena hati yang terombang-ambing.
Matanya menangkap sosok Reza.
"Kak Reza?" batinnya tercekat.
Ia mengenal lelaki itu. Kakak kelasnya semasa SMP, yang dulu sering menolongnya saat dibully, yang mengajari matematika di bangku kantin. Tapi kini, mereka berdiri di sisi yang berseberangan. Reza sebagai orator demonstrasi, dan dia sebagai bagian dari pasukan pengamanan.
Demo memanas. Lemparan botol, gas air mata, dan dorongan mulai terjadi. Dalam kekacauan itu, Reza maju lebih ke depan dan tiba-tiba-
"BRUKKK!!"
Sebuah pentungan menghantam bahunya. Ia jatuh terjerembab, diinjak beberapa kali, lalu tak sadarkan diri. Letda Wulan, yang berdiri dalam formasi terlihat sedih dalam hati melihat Reza yang tak sadarkan diri terkena pentungan.
"Kak Reza!" teriaknya panik dalam hati Wulan!"
Todos los derechos reservados