Dua Sisi Bersahabat

Dua Sisi Bersahabat

  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 20
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 23, 2025
Di tengah panasnya siang Jakarta, ribuan mahasiswa memadati jalanan depan gedung DPR. Spanduk berkibar, suara orasi membelah udara, dan emosi membara di antara massa. Di antara mereka, Reza, mahasiswa semester akhir jurusan hukum, berdiri paling depan. Suaranya lantang, matanya tajam menatap barisan aparat yang membentuk pagar betis. "Kita lawan ketidakadilan ini! Jangan biarkan suara rakyat dibungkam!" teriak Reza sambil mengangkat tangan. Barisan aparat TNI-Polri berdiri tegas. Di sisi kanan, berdiri seorang perwira muda dengan seragam loreng lengkap. Letnan Dua (Letda) Wulan, seorang Kowad yang baru saja lulus dari Pusdikkowad, memegang perisai dengan tangan gemetar, bukan karena takut, tetapi karena hati yang terombang-ambing. Matanya menangkap sosok Reza. "Kak Reza?" batinnya tercekat. Ia mengenal lelaki itu. Kakak kelasnya semasa SMP, yang dulu sering menolongnya saat dibully, yang mengajari matematika di bangku kantin. Tapi kini, mereka berdiri di sisi yang berseberangan. Reza sebagai orator demonstrasi, dan dia sebagai bagian dari pasukan pengamanan. Demo memanas. Lemparan botol, gas air mata, dan dorongan mulai terjadi. Dalam kekacauan itu, Reza maju lebih ke depan dan tiba-tiba- "BRUKKK!!" Sebuah pentungan menghantam bahunya. Ia jatuh terjerembab, diinjak beberapa kali, lalu tak sadarkan diri. Letda Wulan, yang berdiri dalam formasi terlihat sedih dalam hati melihat Reza yang tak sadarkan diri terkena pentungan. "Kak Reza!" teriaknya panik dalam hati Wulan!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Etiology of Dissociation || Jayhoon
  • I Am In Novel?!!
  • Murid Sialan
  • Transmigrasi Cepat: Teratai Putih Kembali Populer
  • Detektif Kriminal Negara Tahun 1990 (Part 1)
  • Male lead Antagonist
  • Sorry Mr. Husband (END)
  • The Butterfly's Mask: ( Jaeyong ) - END

Sunghoon, seorang psikiater muda berbakat, mendapat tugas khusus dari dokter senior yang juga menjadi mentornya: menangani seorang pasien dengan Dissociative Identity Disorder (DID). Kasus ini bukan kasus biasa, pasien bernama Jay tersebut memiliki tujuh kepribadian berbeda, masing-masing dengan sifat, emosi, dan cara berpikir yang saling bertolak belakang. Awalnya, Sunghoon menganggap ini sebagai tantangan profesional semata. Namun, seiring sesi terapi berjalan, satu per satu kepribadian Jay mulai muncul, membuka lapisan demi lapisan trauma masa lalu yang selama ini terkubur. Setiap kepribadian membawa potongan cerita yang berbeda. Ada yang protektif, ada yang agresif, ada pula yang rapuh seperti anak kecil. Tanpa disadari, Sunghoon mulai terjerat lebih dalam. Ia menemukan bahwa trauma Jay memiliki keterkaitan dengan masa lalunya sendiri-sebuah benang merah yang seharusnya mustahil ada antara dokter dan pasien. Hubungan profesional perlahan berubah menjadi konflik batin yang rumit, mempertanyakan batas antara empati, tanggung jawab, dan rasa bersalah. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, sebuah plot twist besar mengguncang segalanya: hubungan antara Sunghoon dan Jay jauh lebih dekat daripada yang mereka bayangkan. Masa lalu yang terputus kini menuntut jawaban, dan proses penyembuhan tidak lagi hanya tentang Jay, tetapi juga tentang Sunghoon sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines