Jerevan Aryasatya Wicaksana-atau Jere bagi hampir semua orang-adalah definisi dari "The Perfect Wicaksana Heir". Tampan, tenang, penuh kendali, dan selalu tahu kapan harus bicara serta kapan harus diam. Sejak ia kembali dari studinya di luar negeri, hidupnya seperti sudah digariskan ulang: bergabung di firma hukum keluarga, menempati posisi strategis, dan menjadi wajah baru klan Wicaksana. Semua tampak sempurna... setidaknya di permukaan.
Lalu datanglah Isabella Sisilia Atmadja-anak tunggal dari keluarga Atmadja yang sangat dihormati, tapi juga dikenal karena reputasi sang putri yang liar. Seorang model, sosialita, headline darling, dan skandal enthusiast. Isabella hidup dalam sorotan lampu kilat dan bisik-bisik pesta private yang hanya segelintir orang elite tahu keberadaannya.
Mereka bertemu lagi di Bali-dalam sebuah pesta keluarga besar yang terlalu mewah untuk disebut "keluarga". Jere hanya ingin bertahan hidup dari malam penuh senyum palsu, sementara Isabella... well, she just wants to have fun. Dulu, ia tak pernah melirik Jere. Karena hatinya? Tertinggal pada Dewanarendra, kakak laki-laki Jere, yang telah lama menghilang dari Jakarta.
Bali tak mengubah apapun. Sampai takdir membuat mereka kembali bertemu di Jakarta-dalam lingkup profesional, tanpa ruang untuk pura-pura. Dan dari situlah semuanya menjadi... rumit.
Yang awalnya hanya permainan. Yang awalnya hanya demi headline.
Tiba-tiba saja... ada yang lebih dari sekadar impuls dan nama keluarga.
Tapi cinta di antara dua nama sebesar Atmadja dan Wicaksana?
It's either legacy or scandal. Nothing in between.
Maudie tumbuh dengan luka yang diajari sebagai cinta. Saat dunia yang ia anggap normal runtuh, ia dipaksa memilih, tetap diam, atau pergi.
Novel ini adalah kisah tentang trauma, kehilangan, dan keberanian meninggalkan apa yang menyakitkan bahkan ketika itu terasa seperti rumah.