Rumah Bernama Kamu

Rumah Bernama Kamu

  • WpView
    Reads 156
  • WpVote
    Votes 106
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadComplete Sat, Aug 23, 2025
"Rumah Bernama Kamu" adalah kisah tentang menemukan rumah bukan pada bangunan, tetapi pada seseorang yang membuat kita merasa pulang. Cerita ini berpusat pada dua hati yang tak sengaja bertemu di tengah hiruk pikuk nya dunia yang keras dan dingin. Mereka sama-sama terluka, sama-sama pernah kehilangan arah, namun dalam tatapannya, mereka menemukan rasa aman yang tak bisa dijelaskan. "Rumah" dalam cerita ini bukanlah tempat dengan dinding dan atap, melainkan pelukan hangat, tawa kecil, dan cara seseorang memahami kita tanpa kata-kata. Ini tentang rasa yang membuat hati yakin bahwa pulang adalah ke mana pun orang itu berada. "Aku tak pernah mencari rumah, sampai kamu datang dan membuatku ingin pulang." Baginya, rumah bukan lagi sekadar bangunan. Rumah adalah seseorang yang membuat dunia terasa aman, meski dunia itu hancur di luar sana. Di antara luka masa lalu dan rasa takut akan kehilangan, mereka saling menemukan-dengan cara yang sederhana, hangat, dan begitu nyata. "Rumah Bernama Kamu" adalah kisah tentang mencintai seseorang hingga terasa seperti pulang, tanpa syarat, tanpa alasan, hanya karena hati memilih untuk percaya. Dengan nuansa hangat, manis, dan penuh emosi, "Rumah Bernama Kamu" akan mengajak pembaca merasakan bahwa cinta sejati bukan tentang mencari tempat terbaik, tapi tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasa cukup, utuh, dan selalu ingin kembali.
All Rights Reserved
#251
akukamu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Between Spotlight and Silence [JAEBI]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • My dear
  • The Villain's Mother
  • Hai,Tzu!
  • Nala dan Mas Juragan
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • 7 days [✓]

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines