When It Rained, You Came

When It Rained, You Came

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Sep 5, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
______________________________________ ⚠Peringatan⚠ 100℅ bromance Ini bukan Bl maupun 18+! Mohon untuk bijak dalam menilai maupun membaca suatu cerita. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak maupun pesan. Saya tidak diizinkan untuk menjadi pembaca bayangan!! ⚠Di dalamnya terdapat adegan kekerasan, kata-kata kasar, dan emosional. Disarankan untuk pembaca 13+⚠ ______________________________________ Hwang Seo-Yul dan Seo Il-Kwon sudah bersahabat sangat lama. Keduanya selalu bersama dalam keadaan apapun itu. Kehidupan mereka tak jauh berbeda dari yang namanya "kesengsaraan". Walaupun kasta Seo-Yul dan Il-Kwon berbeda, mereka tetap selalu menjadi pondasi satu sama lain. Il-Kwon selalu menemani Seo-Yul ketika melihat senja sembari bermain gitar bersama. Semua itu tetap terulang. Namun, suatu kecelakaan yang membuat kedua mata Seo-Yul buta membuatnya harus mengubur dalam impian untuk menjadi gitaris. Mau tidak mau, Il-Kwon harus merawat sahabatnya karena tidak ada yang mau merawatnya. Keduanya menjalani hidup dalam saling membutuhkan. Walaupun, konflik masih terus melanda tanpa tahu rasa kasihan. "Jika aku sudah bisa melihat, aku ingin melihat luka-luka ditubuhmu terlebih dahulu, Hyung. Boleh?" "Ya, asalkan kau sudah bisa kembali melihat keindahan senja, aku akan izinkan."
All Rights Reserved
#1
temaberat
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • I'm Not Just a Figuran
  • The Time
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain [END]
  • Tsundere Maniak Susu [DITERBITKAN]

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines