surat cinta di balik kitab tajwid
Di sebuah desa kecil pada akhir tahun 1990-an, di balik gemericik radio jadul dan derap pijakan sepatu di jalanan tanah, tumbuh kisah cinta yang sangat polos-antara As'ad Fawwaz Rahmadi, pemuda tukang tambal ban yang rajin mondok, dan Salma Qanita Ramadhani, anak ustazah yang kalem tapi punya canda khas tersendiri.
Keduanya bukan remaja yang biasa pamer cinta:
Saling melirik di shaf pengajian,
Saling menyemangati lewat hafalan surat pendek,
Saling menyisipkan doa-doa kecil-tanpa pernah benar-benar tahu kapan harus mengucap kata "aku suka kamu".
Dibalut nuansa tahun 90-an yang hangat dan penuh nostalgia-kaset pita, sandal jepit yang hilang di masjid, pengajian di sore hari, permainan tamiya, hingga surat cinta yang ditulis tangan di balik kitab tajwid-kisah mereka berkembang perlahan dengan humor ringan, canda segar, dan cerminan nilai-nilai Islami.
Setiap bab membawa pembaca menyelami kehidupan sehari-hari mereka:
Reuni pengajian, di mana Ucup memaksa jadi MC dan bikin suasana kocak.
Latihan qiro'ah, saat As'ad hampir ketahuan salah baca karena tergoda melihat Salma.
Drama sandal jepit hilang, penuh geli karena banyak yang suka iseng.
Surat-surat samar, yang diselipkan dalam kitab tajwid, mengundang tawa sekaligus membuat pelan hati.
Di balik senyum dan tawa itu, ada pertanyaan yang lebih besar:
Apa definisi cinta sejati menurut Islam, ketika adab dan malu lebih penting daripada pengakuan keras?
Bisakah cinta itu tumbuh meskipun tak pernah terucap?