EXILE
---
Mereka bertemu di dunia virtual, di antara notifikasi, sleep call, dan pesan suara yang jadi pengganti pelukan.
Dia baik. Perhatian. Selalu ada. Tapi dia juga misteri. Wajahnya tak pernah benar-benar terlihat.
Dia tahu segalanya tentangnya. Tapi dia?
Cuma bisa menebak siapa dia sebenarnya, dari suara, cara bicara, dan sorotan kamera yang selalu tertutup tiket atau bayangan.
Lama-lama, cinta tanpa bentuk itu mulai melelahkan.
Dia ingin percaya, tapi hatinya mulai goyah.
"Kalau aku pergi pelan-pelan, kamu akan cari aku?"
EXILE adalah kisah tentang cinta yang tak kasat mata, kesabaran yang nyaris habis, dan seseorang yang ingin dikenali... bukan hanya disayangi.
---
Tanpa bicara sepatah kata pun, Axel berjalan menuju ranjang. Dia duduk di tepi kasur, memunggungi Lucia, lalu mulai melepas sepatunya.
Lucia gemetar hebat. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membantunya? Atau diam saja?
Axel menoleh ke samping, menatap Lucia yang sedang memeluk lututnya sendiri seperti landak ketakutan.
"Kenapa kau duduk di situ seperti patung?" tanya Axel, suaranya serak dan dalam.
"S-saya... menunggu instruksi, Tuan," cicit Lucia.
Axel mendengus. Dia berbaring telentang di kasur, mengambil tempat yang luas, menyisakan sedikit ruang untuk Lucia. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Berbaring," perintah Axel.