Mentari menyeret langkah, bahunya memikul beban yang tak kasat mata, lebih berat dari tas punggung usangnya. Di matanya, yang seharusnya berbinar ceria di usia enam belas, kini terukir lelah dan kepedihan. Setiap hari, ia menari di atas panggung kehidupan yang keras, sebuah drama tanpa henti sejak sang ayah pergi, meninggalkan lubang menganga di hati dan dompet keluarga. Sebelum fajar menyapa, Mentari sudah bergelut dengan adonan, wangi kue menjadi penawar pahitnya kenyataan. Ia tak hanya membuat kue; ia merangkai harapan, sepotong demi sepotong, untuk dijual di kantin sekolah yang riuh dan warung Bu Tinah yang sepi.
Sekolah, benteng impian bagi kebanyakan, baginya adalah medan perang. Bisikan-bisikan tajam dan tatapan merendahkan adalah anak panah yang tak henti menghujam, menancap di harga dirinya yang rapuh. Seragam lusuh dan sepatu bolong adalah saksi bisu kemiskinannya, kontras dengan gemerlap gawai dan tawa renyah teman-temannya yang tak pernah tahu arti sebuah perjuangan. Hanya Bima, si penyendiri berkacamata tebal, yang sesekali mengulurkan senyum tipis, seolah oase di tengah gurun pasir kegetiran.
Namun, di tengah keputusasaan yang melilit, secarik pengumuman di dinding kantin, usang dan terabaikan, bagai percikan api di kegelapan. Lomba Karya Ilmiah Remaja. Beasiswa penuh. Kata-kata itu berkelebat, merobek tirai kelabu yang menyelimuti hidupnya. Jantungnya bergemuruh, membunyikan genderang perang dalam dadanya. Ini adalah kesempatannya, satu-satunya biduk untuk berlayar menjauh dari pulau derita. Namun, ia tahu, jalan itu tak akan mudah. Bayang-bayang keraguan menghantuinya, ejekan akan semakin menjadi, dan waktu, adalah musuh terbesarnya. Mentari harus membagi dirinya antara mengejar ilmu, mencari nafkah, dan menjadi tiang penyangga bagi keluarga yang rapuh. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus pulang, membawa kemenangan atau hancur di tengah jalan.
All Rights Reserved