Mentari menyeret langkah, bahunya memikul beban yang tak kasat mata, lebih berat dari tas punggung usangnya. Di matanya, yang seharusnya berbinar ceria di usia enam belas, kini terukir lelah dan kepedihan. Setiap hari, ia menari di atas panggung kehidupan yang keras, sebuah drama tanpa henti sejak sang ayah pergi, meninggalkan lubang menganga di hati dan dompet keluarga. Sebelum fajar menyapa, Mentari sudah bergelut dengan adonan, wangi kue menjadi penawar pahitnya kenyataan. Ia tak hanya membuat kue; ia merangkai harapan, sepotong demi sepotong, untuk dijual di kantin sekolah yang riuh dan warung Bu Tinah yang sepi.
Sekolah, benteng impian bagi kebanyakan, baginya adalah medan perang. Bisikan-bisikan tajam dan tatapan merendahkan adalah anak panah yang tak henti menghujam, menancap di harga dirinya yang rapuh. Seragam lusuh dan sepatu bolong adalah saksi bisu kemiskinannya, kontras dengan gemerlap gawai dan tawa renyah teman-temannya yang tak pernah tahu arti sebuah perjuangan. Hanya Bima, si penyendiri berkacamata tebal, yang sesekali mengulurkan senyum tipis, seolah oase di tengah gurun pasir kegetiran.
Namun, di tengah keputusasaan yang melilit, secarik pengumuman di dinding kantin, usang dan terabaikan, bagai percikan api di kegelapan. Lomba Karya Ilmiah Remaja. Beasiswa penuh. Kata-kata itu berkelebat, merobek tirai kelabu yang menyelimuti hidupnya. Jantungnya bergemuruh, membunyikan genderang perang dalam dadanya. Ini adalah kesempatannya, satu-satunya biduk untuk berlayar menjauh dari pulau derita. Namun, ia tahu, jalan itu tak akan mudah. Bayang-bayang keraguan menghantuinya, ejekan akan semakin menjadi, dan waktu, adalah musuh terbesarnya. Mentari harus membagi dirinya antara mengejar ilmu, mencari nafkah, dan menjadi tiang penyangga bagi keluarga yang rapuh. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai. Ia harus pulang, membawa kemenangan atau hancur di tengah jalan.
"Cowok pakai earphone, topi warna hitam arah jam satu"
Alexa reflek menoleh, mengangkat sebelah alis bertanya.
"Gue mau nantang lo buat bikin tuh cowok jatuh cinta bahkan tergila-gila sama lo. Ya-itu pun kalo lo bisa"
"Gak. Jawabannya tetap gak."
"Claudia suka banget bahkan tergila-gila sama dia, lakuin berbagai cara supaya gak ada cewek yang berani dekat-dekat sama tuh cowok, kalo sampai lo berhasil buat tuh cowok jatuh cinta bahkan bucin mampus-"
"Ok deal."
Dan, itu adalah awal mula kisah Alexa dan Aldrich dimulai.
***
Aldrich Shaquille Mc Muller
Blasteran Brasil-Indonesia.
Most Wanted Boy dengan predikat terpanas tahun ini dikalangan siswa siswi di negaranya sekaligus cucu pemilik Muller Internasional School. Sekolah Internasional yang terkenal dengan fasilitas terlengkap dan biayanya yang fantastis.
Tampan
Kaya-raya
Dingin
Tak tersentuh.
Calon penerus perusahaan terkemuka 'Muller Corporation'' Cucu kesayangan William Mc Muller. Konglomerat sekaligus pemilik Muller Internasional School.
Terlalu di manjakan, menjadikan Ia sosok yang tidak suka dibantah. Apapun yang diinginkan Cucunya. William Mc Muller akan selalu menuruti.
Tetapi, ada satu hal yang sulit untuk William Mc Muller turuti dari keinginan Cucunya. Biasanya sang Cucu hanya meminta barang, pulau, villa dan berbagai macam perintilan kecil lainnya.
TAPI INI?
Kenapa Cucunya malah meminta Seorang Gadis kepadanya?
Apalagi setelah mengetahui asal-usul Gadis itu yaitu Anak bungsu dari Keluarga Louis.
Perlu di garis bawahi. LOUIS
Musuh dari keluarga Muller!
Alexandra Qotrunnada Louis
(Murni dari otak author)
(⚠️Jangan ada plagiat!)