Ketika ibu Tiara meninggal mendadak, tiba-tiba ayahnya punya kebiasaan baru.
Menulis surat. Setiap hari. Surat yang tidak pernah terkirim. Dan Tiara menyaksikan hidup menjauh dari mata ayahnya. Sosoknya ada, tetapi dia hidup dengan setengah nyawa.
Menyaksikan cinta ayah ibunya, Tiara percaya belahan jiwa itu ada, cinta sejati itu nyata. Tiara terkonsep untuk percaya bahwa sebuah cinta romantis yang tak lekang oleh maut, bukan hanya sekadar teori yang ada dalam novel dan film. Ia ingin dicintai sedalam itu. Penuh, utuh, dan setia.
Sayang, cintanya selalu jatuh pada lelaki yang salah.
Seumur hidup, Tiara hanya pernah mencintai dua lelaki.
Ben, lelaki sempurna. Yang dengan setia ditunggunya enam tahun, tetapi kemudian mengkhianatinya. Lelaki yang ingin ia lupakan.
Dan Tristan, lelaki tepat. Tetapi datang terlambat, karena ia telah menjadi milik wanita lain. Lelaki yang harus ia lupakan.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri. Ketika berusaha menjauh dan mengenyahkan rasa, Tiara dan Tristan justru dipertemukan kembali di kota paling romantis di dunia: Venesia.
Menghabiskan waktu setiap hari bersama, rasa yang belum sepenuhnya mengendap kembali naik ke permukaan. Sebagai wanita yang pernah merasakan sakitnya rasa pengkhianatan, kepala dan hati Tiara berperang.
Tiara harus memilih: membiarkan dirinya hanyut mengikuti hatinya meski tahu risikonya, atau mengubur cintanya sekali lagi demi menjaga harga diri dan moralitas.
Tapi... bisakah takdir benar-benar dihindari?
Catatan: Cerita tentang Bapak diilhami oleh kisah nyata.
||FOLLOW SEBELUM BACA!!!||
"Ini kamar aku, nggak boleh nyelonong masuk tanpa izin" tegas Ala, kesal karena ruang pribadinya diakses tanpa seizinnya.
Kai menutup pintu, mendekat ke arah Ala yang sedang berbaring di ranjangnya.
"Ih, jangan naik" larangan Ala lagi-lagi diabaikan oleh pria itu.
Ala memberenggut kesal, pria kaku itu bahkan sudah bergabung di bawah selimut yang ia pakai.
"Sejak kapan suami istri punya kamar sendiri-sendiri?" bisik Kai tepat di belakang telinga Ala.
Ala merinding kegelian karena hangat hembusan nafas Kai.
"Sejak sekarang" pekik Ala begitu berhasil melarikan diri dari dekapan Kai. Dia berlari ke luar kamar, meninggalkan Kai yang tertawa puas setelah berhasil menggoda dirinya.
Masih terasa jejak usapan tangan Kai di perutnya tadi. Ala khawatir, apakah pria itu sudah tahu?
***
Cerita ini tentang dua sejoli yang hidup bertetangga namun tidak saling mengenal. Mereka bertemu karena sebuah insiden, hingga akhirnya semakin dekat dan mulai nakal tipis-tipis 🔞
⚠️⚠️⚠️
Terdapat beberapa konten dewasa eksplisit dan kata-kata vulgar, silahkan skip jika tidak berkenan. Bijaklah memilih bacaan.
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN KARENA BACA CERITA INI GRATIS.
JANGAN JADI SILENT READER!