Cleo adalah mahasiswi jurusan Keislaman yang dikenal tenang, taat, dan cerdas. Ia tumbuh dalam keluarga religius yang menjadikannya simbol harapan, panutan, dan keteladanan. Hidupnya lurus-ada batas yang tak bisa ia lewati, dan ia sudah terbiasa berjalan dalam garis keyakinan yang jelas.
Sementara Nathan adalah mahasiswa teologi Kristen yang lembut, terbuka, dan punya pandangan luas tentang kasih dan perbedaan. Ia datang bukan untuk menyanggah, tetapi untuk memahami. Sikapnya yang dewasa dan tatapan mata yang menyimpan rasa sepi membuat Cleo tak bisa sepenuhnya menghindar.
Pertemuan mereka tidak disengaja-berawal dari tabrakan kecil di koridor kampus. Namun setelah itu, semesta terus mempertemukan mereka dalam diam, dalam diskusi kelas, dalam pagi yang sama di taman, dan dalam keheningan yang pelan-pelan membentuk ikatan tak kasat mata.
Cinta mulai tumbuh... bukan karena mereka menginginkannya, tapi karena mereka saling mengerti tanpa harus memaksakan.
Namun, bagaimana jika cinta itu hadir di antara dua arah kiblat yang berbeda?
Bagaimana jika hati mulai bergetar pada seseorang yang-dalam agama-tak boleh dimiliki?
Cleo mulai dilanda dilema antara rasa dan iman. Nathan pun mulai dihantui ketakutan: haruskah ia melangkah lebih dalam, atau melepaskan sebelum semua menjadi terlalu sakit?
"Di Antara Dua Kiblat" adalah kisah tentang cinta yang datang tanpa izin, tentang perbedaan yang tak bisa disatukan begitu saja, dan tentang pilihan yang harus dibuat saat logika, hati, dan iman saling berbenturan.
Apakah mereka akan bertahan, meski dunia memisahkan mereka sejak awal?
Atau cinta ini hanya akan menjadi kenangan... yang disimpan di sudut hati paling sunyi?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang