"Hari Raya, Dan Hati yang Tak Lagi Pulang"

"Hari Raya, Dan Hati yang Tak Lagi Pulang"

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jul 28, 2025
"Cinta, pada akhirnya, tidak selalu menemukan rumahnya." Begitu kata hati ketika bunga yang kubeli dengan harap, hanya tinggal sebagai pajangan diam. Ia tak menolak, tapi juga tak memeluk. Seperti doa-doa yang pernah kita lafazkan bersama, kini menggantung tanpa 'amin'. Barangkali, bukan aku yang Allah takdirkan menuntunnya sampai ke pelaminan. Tapi aku percaya... setiap cinta yang tulus, meski tidak bersatu di dunia, akan disaksikan langit dalam sunyi. Maka biarlah bunga itu tinggal sebagai saksi, bahwa pernah ada rindu yang tak sempat pulang. Pernah ada kasih yang menunggu di ujung haflah - namun hanya dijawab dengan senyum tipis dan langkah menjauh. Dan jika suatu hari ia membaca ini, atau sekadar mengenangnya dalam diam... Semoga ia tahu, bahwa aku mencintainya bukan karena ingin memiliki, tetapi karena aku ingin menjadi bagian dari doanya yang paling rahasia. Moh Rifqi Alfiansyah
All Rights Reserved
#82
fitri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"[END]
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {S2}
  • Chana's Transmigrasi
  • REGAN's Crazy Wife
  • Change The Plot (Niel)
  • Mission
  • BACKSTREET
  • Drama di Pintu Kosan

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines