Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, karakter, tempat, dan peristiwa hanyalah imajinasi penulis. Jika ada kesamaan dengan dunia nyata, itu kebetulan semata.
Pharita Elina (25)
CEO firma konsultan strategis di Jakarta, fokus pada bisnis digital dan ekuitas pasar. Lulusan S2 Manajemen Internasional Singapura. Tenang, rasional, perfeksionis, tapi diam-diam penyayang. Sulit mengekspresikan emosi, hanya selektif. Jarang aktif di media sosial, lebih sering menghabiskan malam di apartemennya di Setiabudi membaca laporan atau mendengarkan musik klasik. Anak tunggal yang mandiri sejak kuliah, lingkaran sosialnya kecil; hanya beberapa kolega dan Asa, sahabat lama sejak SMP-SMA.
Ahyeon Wistara (17)
Siswa kelas 12 di SMA unggulan Jakarta Selatan. Ketua klub film, kadang ikut lomba debat dan esai. Mengagumi Pharita dan ingin kuliah Manajemen seperti dirinya, meski masih ragu soal masa depan. Peka, hangat, humoris, tapi suka berpikir dalam diam. Hobi menulis skenario di ponsel dan punya akun burner untuk mengikuti orang yang dikagumi-termasuk Pharita. Tinggal bersama orang tua dan kakaknya, Asa. Lebih dekat dengan Asa, sering curhat padanya, sementara malamnya diisi menonton film lama atau merenung soal hidup.
Asa Wistara (25)
Kakak Ahyeon, desainer grafis di startup branding lokal sekaligus freelancer. Lulusan DKV Bandung yang kembali ke Jakarta. Santai, ceplas-ceplos, tapi protektif pada adiknya. Sahabat dekat Pharita sejak SMP hingga sekarang; mereka sering bertemu untuk berbagi cerita. Hobinya bermain game atau nongkrong di kafe langganan, kadang mengajak Pharita sekadar "update hidup."
Ketiganya terhubung oleh persahabatan lama dan perbedaan usia yang menciptakan dinamika unik: Pharita dengan keseriusan dunia dewasa, Ahyeon dengan keceriaan remaja yang polos, dan Asa sebagai penghubung keduanya.
Di luar, dia adalah sosok dengan kulit porselen, mata selembut sutra, dan aura yang membuat para Alpha ingin berlutut melindunginya. Namun di dalam, Viann adalah pria BETA dari tahun 2028 yang sedang memutar otak demi menyelamatkan nyawanya.
"Kenapa mereka ingin membunuhku kalau mereka bisa mencintaiku sampai gila?"
Baginya, para protagonis pria yang menyeramkan itu hanyalah rintangan kecil. Kalau rayuan maut bisa membuat pedang mereka turun, kenapa tidak dilakukan? Nyawa cuma satu, tapi visual cantik ini harus dimanfaatkan. Target membunuh? Ya, sikat!!
Warning ⚠️⚠️
alurnya lambat,MC gragas bikin malu pembaca,dan bikin stress(^^)
Tagar gak ada, karena WP baru,hasil dari pikiran sendiri,gak ada ambil dari referensi orang,selamat membaca....
Start:17 Januari 2026