(Tak) Setara

(Tak) Setara

  • WpView
    Reads 2,887
  • WpVote
    Votes 263
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 1, 2025
Mereka bukan orang asing. Sejak kecil saling tahu, meski tak pernah saling dekat. Namun sebuah pertemuan setelah bertahun-tahun memunculkan sesuatu yang tak mereka duga: ketertarikan yang lahir bukan dari pandangan pertama, tapi dari cara pandang dan pola pikir. Sayangnya, perasaan saja tidak cukup. Zahira menginginkan hubungan yang setara, bukan secara materi, tapi secara visi, pendidikan, dan cara berpikir. Mumtaz ingin mendekati, tapi ia sadar jarak antara mereka lebih dari sekadar waktu. Ini adalah kisah tentang dua orang yang sama-sama kuat, tapi berasal dari dua dunia yang berbeda. Tentang bagaimana cinta bukan hanya tentang menyatukan, tapi juga tentang bertumbuh... dan menunggu waktu yang tepat. "Saya tahu kamu orang baik, Mumtaz... Tapi dalam hidup saya, 'baik saja' tidak cukup. Saya ingin kita setara-berdiri di tempat yang sama, berjalan ke arah yang sama." Satu pertemuan cukup untuk menumbuhkan rasa. Tapi satu prinsip cukup untuk menjaga jarak.
All Rights Reserved
#190
rony
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines