"Aku tuh sebenernya nggak suka teh manis," kata Rama tiba-tiba, sambil menyeruput teh dari gelas yang baru saja dia minta dari kantin.
Rana melirik malas. "Terus kenapa kamu minum itu?"
"Karena kamu suka. Katanya, kalau suka sama orang, hal-hal kecil juga jadi ikut suka."
Rana hampir tersedak air minumnya sendiri. "Ngaco."
"Tapi logis," Rama menyengir. "Buktinya, sejak duduk deket kamu, nilai Bahasa Indonesia aku naik."
"Itu bukan karena aku."
"Bisa jadi. Tapi kamu nggak bisa buktiin juga kan, kalau itu bukan karena kamu?"
Rana menghela napas panjang, pura-pura kesal. Tapi sudut bibirnya bergerak naik-sedikit saja.
Mereka sering seperti ini.
Percakapan konyol di tengah kelas yang berisik, celetukan aneh, saling ejek yang nggak penting.
Nggak ada yang benar-benar romantis, tapi juga nggak sepenuhnya biasa.
Dan mungkin, kisah mereka memang berawal dari hal-hal seperti itu:
dari teh manis yang nggak manis-manis amat,
dan seseorang yang terlalu sering membuat segalanya terasa ringan-hingga suatu hari, tidak lagi.
Keluarga Adicandra nggak kenal kata "lemah". Buat mereka, hidup itu soal angka di bursa saham, reputasi di koran bisnis, dan kesempurnaan fisik. Sayangnya, Galen, anak ketiga dari empat bersaudara, lahir sebagai "produk gagal" di mata mereka. Penampilan cupu, kacamata tebal, dan sifat pendiamnya bikin dia cuma jadi bayangan di rumah mewah itu. Sampai suatu titik, Galen sadar kalau mau jungkir balik kayak gimana pun, dia nggak akan pernah dianggap.
Galen milih pergi. Dia buang identitas Adicandra, ganti gaya jadi bad boy yang rebel, dan mulai hidup di jalanan. Tapi saat dia mulai nyaman dengan kebebasannya, keluarga yang dulu mengabaikannya tiba-tiba merasa kehilangan "aset" dan mulai berburu Galen dengan cara yang gila.