Bagi Sekar, bekerja di agensi iklan rasanya seperti bermain survival game: revisi tanpa ujung, lembur tanpa batas, dan deadline yang terkadang tidak masuk akal. Pitching, presentasi, bikin copy dadakan, sampai brainstorming tengah malam. Semuanya sudah menjadi makanan sehari-hari dan seharusnya aman terkendali. Kecuali saat klien Bank itu datang mengacak-acak seluruh tatanan.
Gilbran Mahesa.
Dia adalah sumber migrain terbesar bagi satu tim dan suka membuat pegawai lain ketar-ketir. Bagaikan alarm deadline yang tidak pernah berhenti berdentang: mustahil diajak kompromi, sulit diakali, dan selalu memberi revisi yang tak terduga.
Perlahan, Gilbran bukan hanya menumpuk deadline di kalender Sekar. Dia juga mulai menyelipkan 'date-line' alias serangkaian kencan tersembunyi yang membuat Sekar bingung. Ini kerjaan, jebakan, atau justru kesempatan?
⚠️ Peringatan: Cerita ini karya asli penulis. Dilarang menyalin, menggandakan, atau mempublikasikan tanpa izin.
First published: October 4th 2025
Sudah lebih dari setahun Arka memutuskan untuk pindah ke apartemen. Dan selama itu juga Arka tidak pernah berinteraksi dengan tetangga kanan dan kirinya. Walaupun tidak pernah berinteraksi, bukan berarti Arka tidak tau siapa saja yang tinggal di sekitarnya.
Ada satu perempuan yang katanya adalah seorang sosiopat. Ada juga yang bilang bahwa perempuan itu adalah bandar narkoba, lebih parahnya lagi ada rumor yang mengatakan bahwa perempuan pendiam itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang kejam.
Tentu saja Arka tidak mau berurusan dengan perempuan seperti itu, akan tetapi sepertinya semesta sedang mengajak Arka untuk bercanda, karna suatu keadaan membuat Arka dan perempuan itu harus sering berinteraksi.
Bagaimana bisa?!