Party Pooper

Party Pooper

  • WpView
    Reads 1,340
  • WpVote
    Votes 162
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 4, 2025
Pernah nggak kalian punya teman yang selalu kritik apa pun? Nggak pernah ikut senang kalau kalian senang? Dan selalu punya cara untuk membuat kita terlihat jahat, sedangkan dia korbannya, padahal... dia penjahatnya? Selamat, kalian berteman dengan Party Pooper; si perusak kebahagiaan orang lain. Nasib malang ini juga dialami oleh Shera. Shera baru saja dilamar oleh Dex, kekasihnya. Sama seperti perempuan pada umumnya, Shera juga memiliki dream wedding yang ingin dia wujudkan di hari pernikahannya. Namun, ada banyak sekali halangan yang membuatnya sulit untuk mencapai itu lantaran ada oknum-oknum tidak tahu diri yang tidak henti-hentinya mengkritik setiap pilihannya. Lebih parahnya lagi, Shera jadi meragukan banyak hal. Entah itu pernikahan, maupun... Dex. *** "Selain DONATUR, dilarang NGATUR!" -Shera PERINGATAN Cerita ini hanya cerita lucu-lucuan yang aku tulis di waktu senggang. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Nikmatin aja alurnya. Kalau relate berarti cerita ini untukmu. Kalau tersinggung berarti kamu PARTY POOPER!
All Rights Reserved
#122
netizen
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines