Between Laughter And Love

Between Laughter And Love

  • WpView
    Reads 833
  • WpVote
    Votes 117
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 1, 2026
Asa, kakak cantik yang cerewet tapi perhatian, canny adik cowok manja, suka jahil, dan gampang cemburu. Tinggal bersama mommy jennie di rumah mewah, hari-hari mereka selalu penuh ribut kecil, iseng, tawa, dan kehangatan. sampai hadir Dain, cowok romantis yang bikin asa baper... dan canny super kepo. ''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''' Sebuah kisah keluarga, tawa, dan romansa manis penuh kehebohan. . . . Disclaimer ⚠️ Cerita ini cuma hasil imajinasi penulis ----------------------------------
All Rights Reserved
#7
jenny
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Villain's Mother
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines