NINETEEN

NINETEEN

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 1, 2025
Langit malam menjadi satu-satunya tempat Aliana bisa merasa tenang. Di sela-sela lelahnya hidup, bintang dan bulan adalah saksi bisu perjuangannya. Seorang gadis muda yang tampak biasa saja di mata orang lain, tapi di balik tatapannya, tersembunyi beban yang bahkan tak layak ditanggung oleh gadis seusianya. Setiap hari, hidupnya dipenuhi rutinitas yang tak pernah berubah, bersekolah, bekerja sepulang sekolah, mengurus rumah, dan merawat ibunya yang terbaring lemah. Teman-temannya mungkin tengah sibuk dengan cinta remaja, hobi, atau mimpi-mimpi besar. Tapi tidak dengan Aliana. Hidupnya terlalu penuh oleh kenyataan. Sampai suatu hari dimana, hadir seseorang dalam hidupnya. Seseorang yang tak sengaja datang, tapi justru memberi warna pada hari-harinya yang kelabu. Lelaki itu membuatnya merasa bahwa hidupnya tak sepenuhnya kosong. Bahwa mungkin, kebahagiaan itu nyata. Namun... apakah perasaan itu sungguh kebahagiaan? Atau hanya fatamorgana dalam hidup yang melelahkan? -Reoza 30 Juli 2025.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain
  • EVANESCENT
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines