Twenty Years Back - Draco Malfoy

Twenty Years Back - Draco Malfoy

  • WpView
    Reads 2,716
  • WpVote
    Votes 503
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 27, 2025
A Fanfiction Tahun keenam Draco Malfoy. Saat ia mulai menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk menjadi seorang Pelahap Maut. Draco Malfoy yang sedang bertarung dengan Harry Potter dan terkena mantra Sectumsempra, hingga tubuhnya terluka parah dan darah mengucur deras dari lukanya, dan ketika ia merasa benar-benar berada di ambang kematian, tiba-tiba... entah bagaimana ia justru kembali ke dua puluh tahun yang lalu. Tepatnya di tahun 1977, Tahun dimana mana para Marauders masih bersekolah. Di tengah keheranannya atas apa yang terjadi padanya, Draco justru bertemu seorang gadis ceria bernama Emily, gadis yang berada di usia yang sama dengannya, namun mereka jelas hidup di masa yang berbeda. Mau tak mau, Draco harus tetap dekat dengan Emily. Karena hanya dia satu-satunya orang yang percaya padanya... dan ingin membantunya pulang. Namun selama kebersamaannya dengan Emily, Draco mulai merasakan kebahagiaan, sesuatu yang selama ini nyaris tak pernah ia dapatkan. Dan perlahan, tanpa ia sadari... ia mulai berubah. ⚠️ Semua tokoh milik J.K Rowling, kecuali OC. ⚠️ Contains Harsh Word. ⚠️ Do not republish or translated this story in another platform @WritterPotter
All Rights Reserved
#52
themarauders
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JEEVANA
  • KUASA DUNIAWI(Transmigrasi BL)
  • Second
  • Love at Time's Brink
  • I Want to Live
  • [BL Transmigrasi] Male Concubine
  • Given || Ju Jihoon
  • NIGHT NOISES || Romance Horror [END]
  • Secretary Or Mommy? || HIATUS
  • The King & The Doctor
JEEVANA

"Gue terpaksa nikah sama lo, demi bayi yang ada di perut lo." Kata-kata itu jatuh seperti pisau yang menancap tepat di hati Kiana Alisha. Pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia, kini hanya terasa seperti hukuman. Ia tidak diinginkan. Bukan sebagai istri, bukan sebagai seseorang yang layak dicintai. Pria di hadapannya, sosok yang dingin dan kasar, menikahinya bukan karena cinta-hanya karena tanggung jawab, Tatapan matanya tajam, seolah berkata bahwa semua ini hanya sementara. Bahwa setelah bayi itu lahir, segalanya akan berakhir semuanya. Namun, takdir selalu punya cara untuk mempermainkan hati manusia. Dalam kebencian, mungkin terselip perasaan yang tak terduga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines