AKSARA [On Going]

AKSARA [On Going]

  • WpView
    Reads 5,156
  • WpVote
    Votes 3,058
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 28, 2026
"Saat hujan turun, artinya dia sedang bercerita." "Oh, begitu. Omong-omong kamu suka hujan, ya?" "Ya, tapi aku lebih suka kamu, Aksara." ~~~ Gerimis yang enggan usai terus menaungi Kota Bogor, seolah ikut merayakan pilu yang tak berkesudahan. Namun, saat Aksara mengulurkan payung biru pada seorang gadis yang meringkuk kedinginan, kesedihan itu seakan menguap begitu saja. Di sepasang mata teduh namun penuh keberanian milik gadis itu, jantung Aksara berdegup tak karuan-bagaikan genderang yang ditabuh di tengah kesunyian. Gadis itu membalasnya dengan senyum tulus, hingga mampu menghangatkan dingin yang membekap Aksara. Ia menyambut payung yang terulur, dan keberanian pun mengisi dada Aksara untuk berjalan mendampinginya. Setiap langkah di sisi gadis itu, ia merasakan ada sesuatu tumbuh perlahan dari dalam lubuk hatinya. Apakah ini pertanda bahwa ia akan menemukan sebuah pelabuhan? Atau, hanyalah perasaan sesaat yang akan lenyap seiring redanya hujan? Copyright © 2025 by Alin
All Rights Reserved
#371
yushi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MUKTI AGUNG
  • ARCHIO KENZO [ END ]
  • Tsundere Maniak Susu
  • TUNANGAN ANTAGONIST GILA
  • GALAKSI [HIATUS]
  • Figuran Tanpa Peran [END]
  • The Girl Who Was Never Written
  • Halo Gus!!
  • The Lost Cael (Selesai)
  • After the Fall

(Manipulatif, redflag) Terjadi penggerebekan di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota, para warga desa berbondong-bondong mendatangi sebuah rumah saung yang terletak ditengah hamparan sawah yang ditumbuhi jagung. Laura berusaha menjelaskan, bahwa tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Mukti di rumah saung itu, namun tidak ada satupun yang mempercayai ucapannya, bahkan kedua orang tuanya pun tak percaya. Diam-diam, Mukti tersenyum melihat keputusasaan Laura, mungkin dikampung ini, hanya gadis itu yang tau bagaimana gilanya dia. "Rantai bernyawa ini, bakal susah dilepasin neng." bisik Mukti di telinga Laura.

More details
WpActionLinkContent Guidelines