Larik yang Tersesat

Larik yang Tersesat

  • WpView
    Reads 82
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 17, 2026
Namaku Liora. Sejak dulu aku sadar, tidak semua yang kurasa harus terucap. Kadang, hidup ini bagai mimpi yang berjalan sangat lambat. . . atau malah terlalu cepat hingga sulit kucerna. Saat mulai bekerja di kantor baru, satu yang ku inginkan, hidup tenang dan normal. Tanpa diduga, aku bertemu Alena, teman SMA yang ternyata bekerja di sini juga. Lalu ada Radith, kepala divisi-orang yang membuatku tak bisa sepenuhnya tenang. Perlahan, hal-hal kecil terasa ganjil. Ada sesuatu yang terasa asing, baik di sekelilingku atau bahkan dalam diriku. Saat kenangan lama tiba-tiba menghantui, aku mulai bertanya: Apakah semua yang kualami ini sungguh nyata-atau hanya bagian dari mimpi yang terlalu sering kubuat sendiri?
All Rights Reserved
#6
bossandemployee
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines