We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Between Pages

Between Pages

  • WpView
    Reads 102
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadComplete Sun, Aug 3, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di sebuah gang yang terlupakan waktu, berdiri bangunan tanpa nama, sebuah perpustakaan yang hanya terlihat oleh hati yang terbawa rindu. Di bawah cahaya lampu hijau temaram, rak-rak berdebu menyimpan bisikan kenangan. Setiap buku tak hanya dibuka, melainkan mengundang napas lama untuk kembali berdetak. Waktu di sini beku, menciptakan ruang di mana masa lalu dan masa kini bersatu. Di antara kertas pudar, sehelai daun berbentuk hati tergeletak bak jejak rahasia, menandai bab-bab yang tak pernah tuntas. Dan di sudut remang, sosok berpadu bayang bukan tokoh di dalam cerita, melainkan gambaran rindu yang menuntun langkah tanpa suara. Di ruang yang menolak peta dan menantang nalar, pembaca dipaksa menelisik diri sendiri lewat kata-kata yang terpendam. Namun pertanyaannya tetap menggantung: Apa yang terjadi ketika buku lebih mengenal Anda daripada Anda mengenal diri sendiri? Dan siapa sesungguhnya sosok yang muncul di antara baris, tetapi bukan untuk menetap, melainkan untuk mengantar pulang?
All Rights Reserved
#2
kisahsunyi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • SAGA
  • The Last Yes!
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Politik Ranjang [TAMAT]
  • Night Calls
  • Pregnant With The Protagonist's Child (END)
  • Círculo del Destino

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines