Rasanya menyakitkan kala angin berhembus menerpa tubuhnya. Rambut panjangnya berkibar dan ia memejamkan mata. Menghirup napas dengan rakus seakan paru-parunya menyempit. Matanya kembali terbuka, menatap lurus langit hitam di atasnya. Tidak ada bintang. Bahkan bulan enggan muncul. Yang ada hanya gumpalan awan yang sesekali diterangi nyala kilat. Ia menelan ludah. Tangannya yang mencengkeram pagar besi sebatas pinggang di belakangnya perlahan melemah. Ia siap sekarang. Sangat siap untuk apapun yang menghantam tubuhnya di bawah sana nanti. Kedua bola matanya memandang ke bawah. Ramai oleh lampu-lampu mobil yang bergerak, juga terangnya gedung-gedung yang lebih pendek di sekitarnya. Tangannya terlepas, terentang lebar menyambut deru angin yang hampir merusak gendang telinganya. Ia memejamkan mata. Tubuhnya terayun ke depan...
More details