All Signs Led to You

All Signs Led to You

  • WpView
    Reads 480
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadMatureComplete Sun, May 17, 2026
"Rey, ada yang berubah?" Rey menggeleng. "Cuma capek. Proyek akhirku menekan banget." Aurel ingin percaya. Tapi naluri perempuan selalu tahu saat cinta mulai berbelok arah. Dan pada malam terakhir mereka bertemu - malam sebelum Rey benar-benar pergi - mereka duduk berdua di bangku taman yang sepi. Langit penuh bintang, tapi malam terasa kosong. "Aurel..." suara Rey pelan. "Kalau suatu saat nanti aku pergi... kamu masih akan melukis?" Aurel menoleh. "Aku akan terus melukis. Tapi mungkin warnanya takkan sama." "Kenapa?" "Karena inspirasiku mungkin sudah pergi." Rey menarik napas panjang. "Kalau begitu... maaf. Tapi aku harus jadi inspirasimu yang hilang." Dan di situlah akhir segalanya. Start : 12 Agustus 2025 End : 17 Mei 2026
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • can i love you a little while longer?
  • The Price of Marriage
  • Existence
  • Alea For Harleen
  • HANABI.
  • Sweet Boyfriend
  • Because You..
  • AIRSKY || On Going
  • DIÉ MAFIA  (END)
  • Invisible [completed]

"Dan aku capek suka sama kamu," ucap Salsa di tengah hening malam. Kalimat itu cukup untuk membuat Ardan menghentikan kegiatannya. Ia menoleh, menatap gadis itu lekat-kamera yang sejak tadi sibuk ia mainkan perlahan ia turunkan. "Gue gak minta lo suka sama gue," jawab Ardan datar. "Tapi kamu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu." Salsa tersenyum tipis, tangan kecilnya menyibak anak rambut Ardan yang beterbangan ditiup angin malam. Malam itu, mereka berada di atap salah satu rumah sakit di Jakarta. Salsa baru saja diopname karena asam lambungnya kambuh. Ardan datang tergesa-gesa setelah mendengar kabar tersebut. "Dan... peluk, dingin," pinta Salsa manja. Tanpa kata, Ardan menaruh kameranya di kursi lalu langsung menarik tubuh Salsa ke dalam pelukannya. Hangat. "Maaf ya, udah ngebebanin kamu sama perasaan aku." "Sakit aja masih bisa cerewet," gumam Ardan, sambil mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Salsa lembut. Malam ini, Salsa tidak seceria biasanya. Wajahnya pucat, tubuhnya panas. "Masuk yuk, tambah dingin," ajak Ardan. Salsa menggeleng pelan. Di dalam pelukan Ardan, ia merasa lebih baik. Lebih hidup. Diam sejenak. Lalu suara lirih keluar dari mulut Salsa. "Dan, can I...?" Ardan menaikkan alis, menatap wajahnya. "Can I love you a little while longer?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines