Seharusnya aku paham, cinta bagi orang sepertiku bukan tentang pelukan, melainkan tentang seberapa lama aku kuat dicekik tanpa suara. Aku memaafkan Arka saat dia menjadikanku badut di depan teman-temannya, hanya agar dia bisa tertawa. Aku bertahan saat Ibu mengatakan bahwa kehadiranku adalah kutukan yang merusak hidupnya. Tapi di halte ini, di bawah lampu jalan yang berkedip sekarat, aku baru sadar, aku tidak punya tempat untuk pulang. Rumah adalah neraka yang menyamar jadi bangunan beton, dan Arka adalah penjaga pintu yang siap meludahiku setiap waktu. Seragamku kotor, hatiku sudah lama jadi abu. Aku sedang menunggu keberanian untuk berhenti bernapas, karena melihat hari esok terasa jauh lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri. Malam ini, aku resmi menyerah pada dunia yang memang tidak pernah menginginkanku ada.
More details