Rumah Tanpa Ayah

Rumah Tanpa Ayah

  • WpView
    Reads 35
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 8, 2025
WpInfo
Poetry
"Aku nggak butuh Ayah kembali. Aku cuma ingin ia berkata satu hal: Maaf." -Alyssa Natalia Dewi Lily adalah nama panggilan kesayangannya dalam keluarga, ia tumbuh dalam rumah yang dulu hangat-kini dingin dan kosong sejak Ayah tak pernah benar-benar pulang. Setelah menyaksikan ibunya terluka, adiknya meninggal saat lahir, dan keluarganya perlahan retak, Lily hanya memendam satu harapan kecil: mendengar kata "maaf" dari sosok yang paling ia rindukan. Bersama sang kakak Edgar, ia belajar bertahan dalam luka yang tak pernah sembuh. Tapi bagaimana jika yang ditunggu... tak pernah benar-benar kembali? Sebuah kisah tentang kehilangan, harapan, dan suara hati seorang anak perempuan yang tumbuh tanpa pelukan-dan tanpa kata-kata yang seharusnya pernah ia dengar.
All Rights Reserved
#99
dady
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu | ✔
  • poem
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Rembulan Yang Sirna
  • Semua Memukul (✅)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • My Wish
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines