EURESA

EURESA

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 19, 2026
EURESA bukan kisah tentang cinta yang meledak sejak awal, bukan juga tentang janji yang terucap tergesa, atau intensitas yang membakar segalanya. Ia adalah narasi dua jiwa yang menari dalam orbit tak lazim, tempat rasa bertumbuh perlahan, bagai akar yang merambat diam-diam di bawah tanah sunyi. Di dalam EURESA, tak pernah ada deklarasi cinta yang gegap gempita, tak pula jalinan relasi yang sungguh-sungguh bernama. Yang ada hanyalah kesadaran akan kehadiran satu sama lain, bisikan kalbu yang bersemi setahap demi setahap, dan sering kali baru disadari ketika waktu telah berjalan terlalu jauh. EURESA adalah sebuah elegi tentang presence without possession, yaitu tentang keberadaan yang tidak menuntut untuk dimiliki, tentang perasaan yang tumbuh liar tanpa pernah dipaksa untuk mengaku atau diikat. Sebab tak semua kisah cinta harus bermula dengan ikrar "kita", dan tak setiap pertemuan ditakdirkan berujung pada keabadian "bersama". EURESA adalah simfoni tentang keindahan dalam ketidaksempurnaan, tentang rasa yang bersemi dalam hening, dan kehadiran yang meski tak menetap, menjadi abadi di dalam ingatan.
All Rights Reserved
#819
relationship
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Chasing Sanara
  • Revenge Marriage (SELESAI)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines