Kalau boleh jujur, aku udah nggak tahu rasanya jadi anak baik sejak umur 11 tahun.Waktu teman-temanku masih sibuk belajar sepeda atau ngumpulin stiker, aku belajar cara pura-pura bahagia di ruang tamu yang penuh suara teriakan. Ayahku teriak, ibuku balas. Kadang gelas ikut pecah. Kadang aku yang ikut pecah.
Rumah bukan tempat pulang.Lebih mirip seperti lorong gelap yang nggak punya ujung. Dan sejak perceraian itu, aku bukan siapa-siapa. Cuma anak yang salah lahir di waktu yang salah. Ayah punya keluarga baru, ibu sibuk kerja sampai lupa cara memeluk.
Kak Naka satu-satunya yang masih bisa bikin aku tahan.tapi dia juga pelan-pelan hilang.Sejak kuliah, dia jarang pulang. Katanya sibuk. Katanya capek. Tapi aku tahu dia juga muak lihat rumah ini.
Dan di titik ini, aku cuma pengen lari,entah ke mana, asal jauh dari hidup yang rasanya udah kayak serpihan kaca tajam, menyakitkan, dan nggak bisa disusun lagi.
(CC) Attrib. NonCommercial