Bukan Kamu Tapi Takdir

Bukan Kamu Tapi Takdir

  • WpView
    Reads 165
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Aug 20, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Nayra Keirani. Seorang penulis yang akhirnya menjadi editor sebuah penerbit ternama di Jakarta. Di usianya yang menginjak 24 tahun, tiba-tiba orang tuanya menawarkan sebuah perjodohan. Arash Narendra. Seorang pengusaha kafe unik di Jakarta. Usianya 27 tahun. Di usianya yang sudah matang, ia mencoba untuk menjalin komitmen. Nayra bimbang setelah pertemuannya dengan si lelaki pilihan orang tuanya. Di satu sisi, ia masih belum bisa melupakan seseorang di masa lalu. Tapi ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Arash masih terluka. Tapi ia tak mau berlarut-larut dan memilih untuk membuka hati pada perempuan yang menarik perhatiannya di awal pertemuan mereka. *** "Aku enggak janji bisa buka hati sekarang." Nayra berkata dengan sedikit keraguan. "Tapi aku mau mencoba, Ar." "Aku enggak butuh janji, Nay. Aku hanya ingin tahu, kamu mau menerima tawaran ini atau nggak." Diam sejenak. Lalu Nayra mengulurkan tangan ke tengah meja. Arash ragu sesaat, lalu menyambutnya. Image in cover by Pinterest Edelweiss95 © Copyrights 2025 Rank #5 - romansaindonesia / 19 Agustus 2025
All Rights Reserved
#181
romancestory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines