
Dulu, yang diinginkan hanyalah cepat dewasa. Karena jadi dewasa terlihat menyenangkan. Ingin tumbuh. Ingin bebas. Namun ternyata, jadi dewasa rasanya seperti lari tanpa tahu garis finish-nya di mana. Lelucon mana yang menyatakan bahwa dewasa adalah hal yang menyenangkan? Secara fisik, hidup ini tetap berjalan. Tapi di dalamnya, hanya setengah yang benar-benar terasa hidup. Sisanya kosong. Tidak ada sorotan. Tidak ada panggung. Bukan tokoh utama. Hanya satu dari sekian banyak yang berusaha terlihat cukup. Karena kadang, tidak tahu arah bukan berarti tersesat. Hidup tidak selalu kacau, tapi juga tidak baik-baik saja. Segalanya berjalan seadanya. Rutinitas dilakukan bukan karena ingin, namun karena memang itu yang perlu dilakukan. Segalanya terasa netral. Datar. Sepi. Dan anehnya, rasa itu mulai menjadi kebiasaan. Hingga, seseorang datang. Bukan dengan janji manis. Bukan dengan pelarian. Tapi hadir dengan tenang, tak terburu-buru dan bukan untuk menyelamatkan hidup seseorang yang tengah diambang kematian. Hanya saja seseorang yang bersedia duduk di samping, diam, dan ada. Tanpa paksaan. Dan sejak kehadirannya itu, hidup yang tadinya terasa hanya setengah, perlahan mulai mempunyai arti. Bukan karena ia menyelamatkan dari luka yang lama dipendam, Tapi karena akhirnya ada yang melihat, bukan sebagai angka, bukan sebagai latar belakang, melainkan sebagai manusia seutuhnya. Yang meskipun tak sempurna, tetap layak untuk didengar, untuk ada, untuk tinggal. Bukan lagi fisik yang sekilas dilirik, lalu dilupakan. Kadang yang dibutuhkan memang bukan arah, tapi sebuah alasan kecil yang sederhana untuk tetap bertahan. Dia seolah-olah datang untuk bisa mulai percaya. Bukan hanya ke dia, tapi juga ke hidup terutama pada diriku sendiri. a pict by pinterestAll Rights Reserved
1 part