Rasyad hampir tidak mempercayai penglihatannya.
Rambut bronze nan badai, kulit mulus licin bak tanpa komedo dan pori-pori, cincin-cincin emas berkilau melingkar di jemari lentik dengan kuku mengkilap seperti hasil medi pedi, belum lagi alis super rapi natural khas sulaman entah dari salon Jepang, Cina, atau Korea itu.
Wanita di depannya ini lebih cocok bekerja sebagai model katalog-katalog perhiasan daripada ... PRT!
"Gaji segitu udah lebih dari cukup, Bapak. Saya menerima kok. Asal bocil saya juga boleh tinggal di sini ya, Bapaaaak?"
***
Memang sudah seharusnya Dhruvi datang ke Surabaya, mengetuk pintu rumah itu, berkenalan dengan pemiliknya, menilik satu per satu hal sebagai bahan pertimbangan sebuah keputusan super besar yang hendak dirinya ambil.
Lalu, cukup sampai di situ.
Bukannya justru berusaha masuk ke dalam lingkaran laki-laki yang hatinya sudah dikunci mati.
Perempuan sebadai ini, semantab ini, seyahud ini, tiba-tiba menjadi pungguk yang merindukan bulan? Yang benar saja!
Nareswara Reksoediwirjo harus meninggalkan hingar bingar kehidupan ibu kota demi menyelamatkan bisnis keluarganya di Yogyakarta. Pesan Tsumardji, sang eyang, hanya satu; jangan pernah bekerja sama dengan keluarga Sahidin Notodjiwo.
Tapi terkadang, ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dicegah oleh tangan manusia.
Misalnya saja kehadiran Gayatri Bameswara, cucu Sahidin Notodjiwo, yang memiliki dua ratus ribu pengikut di Instagram. Gadis muda berpengaruh di kalangan pengusaha kota Yogyakarta, bahkan menjadi acuan para perempuan seusianya untuk berkarya, sukses dan mandiri.
Saat Nareswara mencoba keluar dari tempurung yang sempit dan terbatas, pertemuannya dengan Gayatri membuat ia mempertanyakan, apakah benar lebih baik menikah daripada hidup seorang diri dan menjadi bujang lapuk?