LURUH 2 : RESIDUE
Lima tahun lalu, Nirvana memilih untuk menjadi seorang martir gadungan. Dia pergi ke Jerman bukan untuk mencari masa depan, melainkan untuk membangun penjara bagi monster di kepalanya. Dia mengira dengan mengasingkan diri, dia sedang menyelamatkan Vanya. Dia tidak sadar bahwa bagi Vanya itu lebih menyakitkan, ia merasa ditelantarkan.
Nirvana merayakan "waktunya" untuk sembuh, sementara Vanya harus merayakan "kematiannya" berkali-kali dalam ketidakpastian yang tak berujung.
Nirvana membawa kepingan harga diri yang tersisa, mencoba mencari sisa-sisa gadis yang dulu dia hancurkan dengan diksi-diksi tajam dan penolakan yang dingin.
Namun, Vanya telah belajar bahwa memaafkan Nirvana adalah bentuk bunuh diri paling puitis. Vanya telah membangun dunia yang kedap suara, di mana nama "Nirvana" adalah frekuensi yang dilarang untuk didengar.
Vanya yang tahu bahwa satu langkah saja mendekat ke arah Nirvana, berarti dia sedang berada di jalur tercepat untuk menghancurkan dirinya sendiri, sekali lagi