SWUDZ POEM BY HYO

SWUDZ POEM BY HYO

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 1, 2026
🖇 OTHER WORKS 🖇 SWUDZ POEM BY HYO Selamat datang di SWUDZ POEM. Buku ini adalah sebuah ruang sederhana yang menjadi muara bagi antologi puisi dan sajak karya Hyo; sebuah cermin bagi berbagai rasa yang tak selalu menemukan tempatnya. ​ Di dalamnya, Hyo merangkum keresahan, perjalanan, serta sudut pandang tentang kehidupan melalui bait-bait yang menyuarakan apa yang selama ini terpendam. Realita dieja lewat diksi yang apa adanya, mencoba menghidupkan kembali pesan-pesan yang mungkin luput dari pandangan biasa. Setiap babnya adalah potongan sajak yang disusun dengan kejujuran, berharap dapat menjadi teman bicara bagi siapa saja yang sedang mencari makna di tengah riuhnya dunia. Belajarlah menilai buku dari isinya bukan hanya dari sampulnya. Tidak semua yang terlihat indah itu indah dan tidak semua yang terlihat buruk itu buruk. Jika menurutmu ini menarik, lihatlah. Jika tidak abaikan saja. Sesungguhnya, menghina karya orang lain jauh lebih buruk daripada sebuah kegagalan. 📣 Ikuti akun resmi SWUDZ untuk memperoleh informasi selengkapnya.. ❍ Happy Reading ❍ Don't forget Vote and Comments ❍ Thank you for your support
All Rights Reserved
#70
keresahan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pikul Pilu Pada Pulangmu
  • 365 HARI BERCINTA DENGAN PUISI
  • kumpulan cerpen kookmin/Jikook (book 2)
  • Unexpected Married  (YUSION/SIYU  GS)
  • Leonids
  • My Wish
  • My SIN (GXG iam Lesbian)
  • အချစ်၏ဟန်ပန်-𝑻𝒉𝒆 𝑺𝒕𝒚𝒍𝒆 𝑶𝒇 𝑳𝒐𝒗𝒆(Complete)
  • Rembulan Yang Sirna

Apa yang sebenarnya manusia inginkan? Apa yang sebenarnya lahir dari kembara tanpa tuju? Menyibak kekosongan, enggan berhenti. Satu dua kali, aku pun melakukannya. "Di mana rumahmu? Apa kamu mengunjunginya akhir-akhir ini?" Semilir mengantar gembiramu pada saat gelisah sejak kemarin menjemputku. Tapak tidak mengambil jeda. Pun bibir bergetar, melengkung pahit. "Tidak. Rumahku tidak dapat aku temukan." Rumahmu mungkin bukan lagi rumah yang hangat. Terlalu terkepul tangis, dusta, dengki, dan segala lara yang dibawa seorang diri. Tanpa kenal lelah meski sebenarnya ingin menyerah. Bersama perasaan-perasaan ini, kamu akan menemukan tempat bersandar. Bersama apa pun yang tertulis di sini, mari temukan kembali dirimu yang mungkin telah lama lupa jalan pulang. *** Seri Dua dari antologi puisi FOUR ©2026

More details
WpActionLinkContent Guidelines