SWEET BENTO

SWEET BENTO

  • WpView
    Reads 657
  • WpVote
    Votes 126
  • WpPart
    Parts 46
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 4, 2026
Genre : Teenfiction Tema : High School, Friendship ⚠ [𝗢𝗡 𝗚𝗢𝗜𝗡𝗚] ⚠ Follow dulu, dong! Hargai penulis dengan memberikan vote dan komentarmu. Selamat membaca♡ ˚☂︎࣪⋅ 。\ | /。˚☂︎࣪ 。\ | / 。˚☂︎࣪࣪⋅ . Di sekolah, 𝗔𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮 𝗔𝗼𝗶 dikenal sebagai ketua OSIS yang tegas dan tak kenal kompromi. Sementara 𝗥𝗲𝗶𝗴𝗮𝘁𝗮 𝗥𝗲𝗻 adalah kebalikannya. Dia merupakan biang onar yang selalu jadi sumber masalah. Mereka bertengkar setiap kali bertemu. Tak ada yang tahu bahwa setiap pagi, Erika menyiapkan satu bento tambahan. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Reiga, yang tak pernah sarapan dan tak pernah bertanya. Ketika seorang gadis lain mengaku sebagai pemilik bento itu, Erika memilih diam, dan Reiga mulai menyadari bahwa perhatian paling tulus justru datang dari orang yang selama ini ia anggap musuh. 𝗦𝘄𝗲𝗲𝘁 𝗕𝗲𝗻𝘁𝗼 adalah kisah tentang cinta yang disembunyikan dalam hal-hal sederhana, tentang perasaan yang disadari terlambat, dan tentang keberanian untuk akhirnya berkata jujur. *** [Start on, 15-01-2026] [Finish on, ] *** 𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧‼️𝗖𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗶𝗯𝘂𝗮𝘁 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗰𝗮, 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗽𝗹𝗮𝗴𝗶𝗮𝘁! 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗸𝗮 𝗽𝗹𝗮𝗴𝗶𝗮𝘁, 𝗷𝗮𝘂𝗵-𝗷𝗮𝘂𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗹𝗮𝗽𝗮𝗸 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗼𝗯𝗮𝘁𝗹𝗮𝗵!
All Rights Reserved
#155
erika
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Chasing Sanara
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines