Until We Met Again

Until We Met Again

  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadComplete Mon, Sep 22, 2025
Seorang mahasiswa yatim piatu yang bernama Haruto tinggal bersama neneknya. Neneknya tersebut telah menurunkan sebuah kemampuan yang disebut Tsunagu atau seorang penghubung/perantara. Kemampuan tersebut membuatnya bisa memanggil orang yang sudah meninggal dan membuat mereka bertemu dengan orang yang masih hidup satu kali saja. Haruto berperan sebagai murid karena kelak akan menurunkan kemampuan tersebut dari neneknya, setiap hari dirinya membantu sang nenek untuk membantu orang-orang bertemu dengan mendiang anggota keluarganya sekali, untuk yang terakhir. Suatu waktu, Haruto diberikan pilihan. Jika sekali saja mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan seseorang, siapa yang akan dia temui. Dia ingin sekali bertemu dan mengetahui mengapa orang tuanya pergi disaat dirinya masih sangat kecil. Di lain sisi, hatinya ingin kembali bertemu dengan seorang wanita yang dulu pernah ia kenal semasa SMA dulu, ada sesuatu yang ia sesali saat itu, berharap bisa bertemu dan memperbaiki semuanya. Akankah Haruto menemukan kebenaran dari misteri kepergian orang tuanya yang tiba-tiba tersebut? Atau bisakah Haruto bertemu kembali dengan wanita yang dia maksud? story by : Tsunagu (film) *ada tambahan cerita sedikit di awal dan akhir*
All Rights Reserved
#348
haruto
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • UNTIL OF STORY (JENLISA)
  • ᵒ̲ⁿ̲ᵍ̲ᵒ̲ⁱ̲ⁿ̲ᵍ̲ Adultrace ▪ nomin
  • Losing Control [GxG Baca Deskripsi!]
  • Nakula
  • Survive as The Protagonis Little Wife [BL]
  • «Balas Budi Yang Mengikat»
  • NIGHT NOISES || Romance Horror [END]
  • I'm Not Just a Figuran
  • Simpanan No, Istri Sah Yes. (ongoing)
  • Last Hope - Cawooz

"Aku harus berangkat," katanya singkat. "Tapi Sena demam," suara Lisa pelan. Jennie hanya diam sesaat. "Nanti aku kirim dokter." Kalimat itu jatuh begitu saja, Dingin,Tegas, Tanpa goyah. Lisa tertawa kecil, bukan karena lucu, tapi karena sakit yang sudah terlalu penuh. "Dia bukan butuh dokter sekarang." "Lalu apa?" Jennie akhirnya menoleh. "Dia butuh ibunya."

More details
WpActionLinkContent Guidelines