London, 1988-
kota ini menyimpan gema
dari sepatu-sepatu tua yang merindukan pulang,
dan tatapan mata yang bicara
lebih lantang dari lidah mana pun.
Harsa Dikara,
pria dengan bisu yang abadi,
namun sorot matanya menuliskan puisi
di setiap jendela yang basah oleh hujan.
Ia berjalan tanpa suara
di jalanan berlapis kabut,
membawa selembar kertas kosong
yang entah kenapa terasa penuh
oleh segala rasa yang tak bisa disebutkan.
Arumi Nestalla,
gadis berjaket wol merah marun,
rambutnya melambai seperti larik-larik
di buku puisi T.S. Eliot yang usang.
Ia suka duduk di bangku Regent's Park,
membaca sajak yang tak selesai,
lalu menoleh diam-diam
saat Harsa lewat membawa segelas teh
dan mata yang tak pernah minta dibalas.
Mereka tak bicara,
tak butuh suara,
karena cinta mereka tumbuh
di antara deru kereta bawah tanah,
bunyi hujan di jendela asrama,
dan debu-debu di perpustakaan King's College
yang menyembunyikan jejak tangan Harsa
di halaman terakhir buku puisi Sylvia Plath.
Ia menulis dengan jari-
bukan pena.
Ia mengucap dengan mata-
bukan lidah.
Dan Arumi,
mengerti semua itu
seperti ia mengerti bagaimana
London mencintai hujan
tanpa perlu menjelaskan alasannya.
Sebab,
di tahun delapan puluh delapan ini,
cinta bisa hadir di tengah kota asing,
dalam sunyi yang paling dalam,
dan tetap bernyanyi
tanpa satu pun suara.
All Rights Reserved