Di kota kecil yang selalu diguyur hujan, dua remaja tumbuh dalam seragam putih biru dan cerita yang berbeda.
Dia gadis dengan tawa hangat dan hati yang terlalu lembut untuk dunia yang kadang terasa kejam, dia tidak datang untuk memperbaiki luka siapa pun, dia hanya memilih untuk tinggal, bahkan saat sikap dingin itu mencoba menjauhkan.
Dan anak laki-laki dengan senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke mata, belajar lebih dulu tentang kehilangan daripada tentang bahagia, rumah baginya hanyalah tempat singgah bukan tempat pulang.
Di antara bangku kelas, tugas yang menumpuk, dan gerimis yang setia turun setiap sore, perlahan jarak berubah menjadi kebiasaan, Kebiasaan berubah menjadi nyaman dan tanpa mereka sadari, nyaman itu mulai terasa seperti rumah.
Namun masa SMP tidak selamanya sederhana.
Ada rahasia yang tak pernah diucapkan.
Ada perasaan yang datang terlalu pelan untuk disadari dan mungkin terlalu cepat untuk dipertahankan.
Karena kadang, cinta pertama bukan tentang siapa yang paling berani mengungkapkan,
melainkan siapa yang paling kuat saat akhirnya harus melepaskan.
Dan di bawah satu payung yang sama, mereka akan belajar,
bahwa tidak semua yang membuat kita tersenyum,
ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Namun kisah ini bukan sekadar fiksi
Novel ini terinspirasi dari potongan kisah nyata-tentang perasaan yang datang di usia yang masih lugu, tentang cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang, dan tentang dua hati yang belajar arti kehilangan sebelum memahami arti memiliki.
Karena kadang, yang paling membekas bukanlah cinta yang sempurna, melainkan cinta yang hadir di waktu yang belum siap.
Dan mungkin, di antara hujan dan kenangan itu, ada bagian dari kisah kalian yang juga pernah kalian alami.
All Rights Reserved