The Unheard Color

The Unheard Color

  • WpView
    Reads 43
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadComplete Fri, Aug 8, 2025
Aya hidup dalam keheningan abadi, seorang perempuan tunarungu yang berbeda. Kekurangan membuat dirinya hampa, namun di balik itu ia dapat melihat apa yang tak bisa dilihat orang lain, warna adalah suara hati manusia. Melalui lukisan cat airnya, ia menerjemahkan getaran jiwa kemarahan jadi merah tua yang mendidih, kesedihan jadi biru kelabu yang melebar. Dunianya tenang, penuh makna... suatu sore di bawah pohon sakura, seorang pemuda berkemeja putih di letakkan semesta di kursi taman. Ia selalu duduk di bangku yang sama. Menatap langit yang sama. Tak pernah bersuara. Ada warna dan misteri di dalam dirinya. Adalah hal yang menenggelamkan dirinya dalam suatu pencarian.
All Rights Reserved
#52
tunarungu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Define the Relationship
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Kembang Desa
  • NINGRUM
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Almost Married (On Going)
  • Nakula
  • EKSKALASI

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines